Benarkah bayi bisa menangis di dalam rahim?

Tahukah anda, bahwa sejak bayi masih di dalam rahim, sesungguhnya ia sudah mulai mempelajari dunia luar. Pada kenyataannya, janin ternyata dapat merespons stimulus eksternal seperti suara, cahaya, gerakan ibu, ayah atau saudara yang sedang mengusap-usap perut ibu. Bahkan di dalam rahim, janin bisa terkejut, pipis, berputar-putar hingga melakukan gerakan akrobatik ke sana kemari. Tetapi, bagaimana dengan tangisan? Apakah perilaku satu ini sudah muncul sejak janin masih di dalam kandungan?

Apakah Janin Bisa Menangis di Dalam Rahim?

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2004 mencoba menyelidiki perilaku janin di dalam rahim terhadap paparan rokok dan kokain. Terdapat lima aktivitas yang dapat dilihat sebagai respons janin, yakni tidur nyenyak, keaktifan bergerak, terbangun namun tenang, terbangun dan aktif secara tiba-tiba, serta menangis.

Awalnya, para peneliti berasumsi bahwa hanya empat aktivitas pertama yang terjadi di dalam rahim. Namun ternyata tidak hanya itu, di dalam rahim janin pun bisa menangis. Bahkan, studi yang dilakukan ini mampu memperlihatkan rekaman video janin menangis di dalam rahim untuk pertama kalinya.

Dari video yang tersebar tersebut, janin menunjukkan perilaku sedang menangis, menarik napas, membuka mulut dan menjulurkan lidah, kemudian memperlihatkan tiga kali tarikan napas berturut-turut sebelum akhirnya mengeluarkan nafas panjang. Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa perilaku ini didapatkan pada setidaknya 10 bayi lainnya.

Hasil studi ini kemudian menunjukkan bahwa yang membedakan perilaku menangis pada janin di dalam rahim dengan bayi yang sudah lahir hanyalah suara tangisan. Pergerakan tubuh, mimik wajah, serta pola tarikan dan keluarnya napas, semua sama dengan perilaku bayi yang menangis pada umumnya.

Kapan Janin Mulai Menangis?

Pertanyaan selanjutnya yang akan muncul adalah, kapan janin akan mulai bisa menangis?. Saat usia kehamilan sudah mencapai 20 minggu, sebenarnya janin telah memiliki semua hal yang diperlukan untuk menangis. Janin tersebut sudah mampu mengenali stimulus dan memberikan respons.

Saat sedang menangis, janin sudah mampu melakukan gerakan napas yang terkoordinasi, membuka mulut, dan menggetarkan dagu. Oleh karena itu, bayi prematur pun tetap bisa menangis seperti bayi yang lahir cukup bulan.

Tapi, meski demikian ekspresi perilaku menangis yang sesungguhnya baru dapat terekam dengan jelas melalui pemeriksaan USG pada trimester ketiga ibu hamil, yaitu sejak usia kehamilan 28 minggu.

Apa Arti Perilaku Menangis pada Janin?

Tangisan pada dasarnya memiliki dua komponen, yakni komponen vokal dan non-vokal. Komponen vokal dari sebuah tangisan yang baru muncul saat bayi lahir merupakan cara bayi untuk berkomunikasi dengan pengasuh bahwa dirnya.

Suara tangisan bayi menandakan bahwa bayi tersebut membutuhkan bantuan, saat dalam keadaan tidak nyaman, atau perlu dipindahkan dari situasi yang mengancam dirinya. Secara harfiah, ini merupakan salah satu mekanisme bertahan hidup.

Sedangkan komponen non-vokal dari tangisan, yang sudah dapat ditunjukkan oleh janin di dalam rahim bisa dianggap sebagai salah satu milestone atau capaian penting dalam tahapan pertumbuhan janin.

Alasannya karena saat terjadi perilaku menangis membutuhkan koordinasi dari berbagai sistem di dalam tubuh, seperti otak, otot-otot wajah, dan pernapasan. Hal ini kemudian menunjukkan bahwa otak, sistem saraf, dan tubuh janin bekerja dengan baik, sehingga ia mampu mengenali, memproses, dan merespons stimulus dari luar rahim.

Pada kenyataannya janin di dalam rahim ternyata sudah bisa menangis, namun dengan cara yang sedikit berbeda. Oleh sebab itu, selama masa kehamilan, ibu hamil harus terus menjaga asupan nutrisi dan menghindari kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Gaya hidup dan perilaku sehat akan menghasilkan si Kecil yang sehat juga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here